Thursday, January 06, 2005

Buku: Krakatoa - the day the world exploded


Krakatoa - the day the world exploded
Simon Winchester
Paperback: 448 pages
Viking Publisher, 2003

Setiap orang Indonesia tahu kalau judul lengkap buku ini – “Krakatoa – the day the world exploded” – salah. Nama gunung berapi itu Krakatau, dan lagi, bukan seluruh dunia yang meledak.... Tentu saja, si pengarang ini sebenarnya tahu juga. Ia menguraikan panjang lebar, tentang asal kata ‘Krakatoa’. Dan ia menuturkannya sebagai suatu cerita sejarah yang cukup menarik, karena meliputi perkembangan telegrafi dan artinya bagi dunia yang beranjak modern. Itu hanya satu alasan mengapa saya senang membaca buku ini.... Ada banyak alasan lain.

Meski demikian, buku ini juga tidak bebas dari beberapa soal yang bisa dikritik. Cerita tentang sejarah telegrafi, bagus. Tapi buat saya, sejarah ini ditulis terlalu melebar. Mungkin si pengarang tidak menentukan fokus tulisannya dari mula. Atau mungkin juga, ia mau melukiskan gambaran besar dari dunia dan perikehidupan di antara abad ke-19 dan 20, lalu memperlihatkan betapa dunia ini dipengaruhi oleh ledaknya Krakatau. Bagus juga, namun cara semacam ini seringkali jadi melelahkan buat mereka yang membacanya. Orang Indonesia bakal menemukan juga beberapa ketidaktelitian fakta sejarah di dalam buku ini. Satu contoh: Simon Winchester berfikir bahwa “Multatuli” (nama pena Eduard Douwes Dekker) berasal dari bahasa Jawa. Dan dia juga tidak tahu perbedaan antara bahasa Jawa dan bahasa Sunda. Pada akhirnya, kita mesti maklum kalau ia mengarang buku ini sebagai wartawan, bukannya ilmuwan. Meski juga bukan sembarang wartawan, Simon Winchester dididik dalam tradisi keilmuan yang cocok: pernah ia menjadi mahasiswa geologi dan ikut ekspedisi ke daerah kutub utara (diceritakannya juga di buku ini). Artinya ia mengerti sains dan perkembangan sains, dan justru sejarah perkembangan itulah yang jadi alasan kenapa buku ini jadi penting.

Dalam ilmu bumi, seperti juga dalam biologi dan botani, Indonesia adalah “laboratorium” besar yang penting. Karena letaknya. Baru sejak tahun 1967 teori Wegener mengenai tektonik bumi (yang sebenarnya sudah lama dipublikasikan tetapi tidak diperhatikan) mulai diterima. Menurut teori ini, kerak bumi terdiri dari dataran besar yang terapung di atas mantel bumi, kita menyebutnya lempeng tektonik. Jadi daratan dan lautan yang kita lihat ini sebenarnya adalah bagian dari lempeng-lempeng tektonik yang tak pernah berhenti bergerak ke segala arah.


Lempeng-lempeng tektonik yang membentuk daratan dan lautan di seluruh dunia
Sumber : http://pubs.usgs.gov/publications/text/slabs.html

Jika dua lempeng benua bertemu terjadilah tabrakan. Kalau kedua lempeng itu sama berat, di sepanjang tabrakan ini bakal terbentuk pegunungan. Ketika India menabrak Asia contohnya, terjadilah pegunungan Himalaya. (India, yang dulu letaknya pada bagian selatan dari Afrika timur bergerak ke utara dengan kecepatan 5 centimeter setahun). Tetapi jika lempeng benua yang satu lebih ringan dari yang lain, terjadilah subduksi. Artinya, lempeng benua yang lebih ringan bakal melesak turun ke bawah lempeng yang lebih berat– seperti dekat pantai selatan pulau Jawa dan pantai barat pulau Sumatra. Akibatnya laut di sana sangat dalam. Juga antara Kalimantan dengan Sulawesi dan antara Bali-Lombok, terdapat daerah subduksi. Di daerah-daerah laut itu (antara Kalimantan dengan Sulawesi, antara Bali dengan Lombok) terdapat “Garis Wallace” – yang penting juga artinya bagi sejarah dan perkembangan biologi modern. Wallace mencermati bahwa satwa dan tumbuh-tumbuhan di sebelah barat dari ‘garis’ itu sangat berbeda dari yang terdapat di sebelah timurnya. Semua itu dibicarakan seluas-luasnya dalam buku ini demi manfaat pembaca.. Gejalah subduksi ini pula yang menyebabkan tingginya aktivitas vulkanik di gunung-gunung berapi di Jawa, Sumatera dan pulau-pulau lain di Indonesia. Mungkin ledakan yang paling besar ialah letusnya gunung Toba – 70 000 tahun yang lalu. Sangat besar juga ledaknya gunung Tambora, di Sumbawa, pada tahun 1815 (pada waktu itu belum ada telegrafi, sehingga ledakan itu kurang dikenal orang pada umumnya).

Mengapa Krakatau bisa membunuh 36 000 orang, mengapa Krakatau berhasil secara spektakuler meniadakan diri? Menurut pendapat pengarang (dan banyak ahli) salah satu alasannya adalah karena air laut sempat masuk ke dalam api dalam gunung itu. Akibatnya adalah produksi uap yang menambah kekuatan ledakan Krakatau. Bagaimanapun, debu ledakan ini naik hingga sangat tinggi dan mengelilingi bumi selama beberapa tahun. Benamnya matahari disertai warna yang spektakuler di langit – seperti api besar (pengarang bercerita bahwa di beberapa kota di Amerika Serikat, pasukan pemadam kebakaran sudah keluar untuk memadam api itu…) Fenomena Krakatau ini jadi penting juga bagi cabang ilmu lain: meteorologi. Menurut si pengarang sejarah bangsa Indonesia juga dipengaruhi oleh ledaknya Krakatau ini. Karena fenomena ini lalu bertindak sebagai pendorong perkembangan nasionalis dan Islam radikal di Indonesia (paling tidak di Jawa Barat). Entah. Namun jika dibaca dengan jeli dan kritis, buku ini sangat bermanfaat buat pembaca yang ingin memperluas pengetahuan – dan suka membaca buku yang dikarang dengan baik.

(Ed van Straten, penikmat buku, ilmu dan budaya Indonesia. Tinggal di Den Haag)

Wednesday, January 05, 2005

Feromon : Berbahasa Pakai Zat Kimia


Jean-Henri Fabre
Namanya Jean-Henri Fabre. Ia nggak pernah sekolah tinggi-tinggi, nggak pernah pula mengajar di universitas. Pendidikan tinggi dinikmatinya 3 tahun saja, di usia 19 tahun Fabre mulai karir sederhananya sebagai guru di Avignon.
Pak guru yang satu ini bukan sembarang pengajar, ia punya minat yang kuat ke alam. Ia betah duduk berjam-jam mengamati kehidupan-kehidupan kecil yang sibuk sendiri di beranda belakang rumahnya. Bukan cuma duduk diam, Fabre membuat catatan dan eksperimen-eksperimennya sendiri. Autodidak sejati, Fabre juga ngelatih dirinya melukis dan bikin illustrasi buat bukunya sendiri. Dari hasil pengamatan dan eksperimennya, Fabre menerbitkan 10 seri ensiklopedia tentang serangga ‘Souvenirs Entomologiques’ yang di kemudian hari diakui sebagai karya klasik dalam dunia akademik Perancis. Nggak kurang dari Charles Darwin, Jhon Stuart Mill dan Louis Pasteur, raksasa-raksasa sains dan filosofi jaman itu mengagumi Fabre karena kecermatan dan detil pengamatannya.

Jean Henry Fabre

Sampul salah satu volume Souvenirs Entomologiques karya Fabre
Di satu musim semi tahun 1870 an, Fabre menghabiskan paginya mengamati ngengat ‘great peacock’ betina keluar dari kepompongnya. Puas dengan pengamatannya, Fabre meletakkan ngengat yang baru keluar dari kepompong itu di kandang kawat di meja studinya. Jam 9 malam hari yang sama, rasa puas Fabre berubah jadi takjub ketika ia menemukan lusinan ngengat jantan berkumpul merubung kandang kawat di meja studinya. “Mereka datang dari segala penjuru, tanpa aku tahu bagaimana mereka menemukan betina di mejaku...” tulis Fabre.


Peacock Moth

Fabre menghabiskan tahun-tahun berikutnya mempelajari bagaimana ngengat-ngengat jantan ‘menemukan’ betina-betinanya. Fabre sampai pada kesimpulan kalau ngengat betina menghasilkan ‘zat kimia’ tertentu yang baunya menarik ngengat-ngengat jantan. Dengan kesimpulan Fabre ini, mulailah seluruh lapangan penelitian baru tentang feromon ...
Feromon, dari bahasa Yunani ‘phero’ yang artinya ‘pembawa’ dan ‘mone’ yang kurang lebih artinya ‘sensasi’. Wuihhh .... arti namanya kok ‘sensasional’ gitu yah ... Feromon adalah ‘zat kimia’ yang dimaksud ama Fabre seratus tahun yang lalu. Feromon pertama ditemukan di Jerman, oleh Adolph Butenandt, ilmuwan yang juga nemuin hormon sex pada manusia: estrogen, progesteron ama testosteron. Ketika pertama kali ditemuin pada serangga, feromon banyak dikaitkan ama fungsi reproduksinya serangga. Ilmuwan mula-mula ngelihat feromon sebagai padanannya ‘parfum’ di dunia manusia.

Bukan sekedar parfum nona serangga
Seiring dengan berkembangnya sains tentang feromon, kita jadi ngerti kalau ternyata serangga menghasilkan bermacam-macam zat kimia yang mempengaruhi perilaku serangga sejenis lainnya. Semut misalnya, ngehasilin feromon untuk narik temen-temennya gotong-royong ngangkut makanan dari tempat yang jauh ke sarang. Itu sebabnya kita sering ngelihat semut berjalan beriring-iring. Beberapa spesies lalat, ngengat dan kumbang juga ngehasilin zat kimia tertentu yang dioleskan ke tempat dia naruh telur-telurnya. Zat-zat kimia ini bakal nyegah serangga lain untuk naruh telur di tempat yang sama, jadi ngurangin kompetisi buat serangga-serangga baru yang nantinya menetas dari telur tadi.
Aphids, serangga herbivore yang sering jadi hama di tanaman sereal, punya feromon alarm. Aphids ini punya banyak musuh alami, serangga-serangga yang pada suka makan serangga lain. Kalau seekor aphid ngedeteksi ada serangga predator di dekatnya, ia langsung ngehasilin zat kimia tertentu. Dan kalau zat ini kecium ama aphdi-aphid saudaranya, mereka langsung ngibrit melarikan diri !
Omong-omong, udah pernah di serbu segerombolan tawon ? Jangan sampai deh ! Makanya jangan iseng mainan sarang tawon. Soalnya tawon-tawon itu juga punya feromon untuk manggil saudara-saudaranya buat nyerang ‘pengganggu’ yang sedang nyabot sarang mereka.
Feromon udah nggak dilihat semata-mata sebagai parfum nona serangga lagi. Tapi didefinisiin secara lebih luas sebagai zat kimia apapun yang dihasilin hewan yang bakal memicu respon tertentu dari hewan sejenisnya. Meski begitu, feromon yang berfungsi menarik serangga-serangga tetep jadi salah satu lapangan penelitian yang paling menarik buat para saintis. Kenapa ? Karena potensinya untuk dijadiin salah satu senjata ngendaliin hama !

Feromon dan perang melawan hama
Dari jaman baheula, serangga udah sering dilihat manusia sebagai biang keroknya gagal panen. Karena itu, dalam perang ngelawan serangga hama, hanya ada satu pilihan: berantas ! Karena itu, pestisida jadi senjata super populer dalam perang ini. Saking populernya, sampai-sampai pestisida bakal terus disemprotkan ke tanaman entah ada atau nggak ada hama – semacam ‘sedia payung sebelum hujan’ lah pokoknya. Tapi sejak tahun 1960 an, kesadaran akan bahaya pemakaian bahan kimia yang berlebihan bikin kita sadar kalau hantam kromo semprot pestisida bukan cara yang bijak untuk memenangkan pertempuran ini. Malah, sejak beberapa dekade terakhir, orang mulai sadar kalau sebenarnya perang ngelawan serangga ini nggak akan ada akhirnya, dan siapapun yang menang sebenernya kita-kita juga yang dirugikan.
Dari sana lahir cara berpikir baru yang nggak asal berantas serangga, tapi cukup dikendalikan jumlahnya. Jadi serangga nya ‘mah boleh-boleh saja ada di tanaman, asal nggak banyak-banyak sampai ke level yang ngerugiin petani. So, petani nggak perlu nyemprot tiap tiga hari, atawa tiap minggu. Cukup semprot pestisida kalau jumlah serangganya udah keliatan meningkat. Dengan cara berpikir macam begini, nggak terlalu banyak pestisida disemprot ke alam. Pertanyaannya, gimana kita bisa ngerti kapan serangga hama di tanaman kita banyak dan kapan sedikit ?
Nah, di sinilah feromon kita jadi berguna. Sampai sekarang, para ilmuwan udah ngenalin lebih dari 1600 feromon yang dipakai oleh berbagai serangga, termasuk serangga-serangga hama. Kalau udah diidentifikasi, feromon ini bisa dibikin dalam jumlah besar secara sintetis. Buat apa? Ini dia kerennya. Feromon sintetis ini banyak dipakai untuk jadi perangkap serangga. Perangkap feromon ini bukannya hanya dipakai kaya perangkap tikus: serangga diperangkap untuk kemudian dibunuh. Meski di dalam rumah kaca filosofi ‘jebak-bunuh’ kaya gini emang banyak dipakai, tapi di perkebunan-perkebunan yang tanahnya luas, cara begini nggak efektif karena butuh banyak banget perangkap, jatuhnya mahal ‘bo ! Yang bisa dilakuin para petani adalah manfaatin perangkap-perangkap ini buat memonitor populasi serangga di lahan mereka. Jadi perangkap feromon ini dipasang dan diperiksa tiap selang waktu tertentu, dan kalau suatu saat jumlah populasi serangganya menunjukkan tren mau melonjak tinggi langsung deh para petani nyemprot pestisida ke pertanamannya. Dengan begini, jumlah pestisida yang disemprotkan ke pertanaman bisa dikurangi.


Perangkap feromon yang tersedia secara komersial


Lagi masang perangkap feromon di kebun nih ...

Selain ngurangin pemakaian pestisida, metode ini juga dipakai sebagai sistem deteksi dini menyebarnya hama tertentu ke wilayah baru. Di Amerika, misalnya, lebih dari 350.000 perangkap feromon disebar di banyak tempat tiap tahunnya untuk mendeteksi penyebaran ngengat gipsi (gypsy moth), hama pada berbagai spesies pohon. Kalau ngengat gipsi ditemukan di wilayah yang sebelumnya bebas dari hama ini, program eradikasi langsung diluncurkan di wilayah itu. Dengan cara ini, penyebaran ngengat gipsi bisa dibatasi.


larva ama serangga dewasanya gypsi moth

Cara lain yang juga dipakai para ilmuwan adalah dengan masang sumber feromon banyak-banyak di pertanaman. Emang apa gunanya? Coba deh kamu bayangin kalau kamu jadi serangga jantan di musim kawin, yang lebih ngandelin indera penciuman dari pada penglihatan untuk nyari betina-betinanya. Sementara feromon sex serangga ini fungsinya kan buat ngasih tahu para pejantan-pejantan yang pada beterbangan itu dimana letak betina-betina mereka. Sekarang coba bayangin kamu terbang ke satu pertanaman karena tertarik ama feromon ini. Tapi begitu sampai di pertanaman itu, ternyata ‘bau’nya datang dari berbagai jurusan !!! Terbang ke sini ... ternyata nggak ada betina meski ‘bau’ feromonnya ada, terbang ke sana sama aja, mondar-mandir, bolak-balik ... yang ada kamu jatuh kelelahan tanpa sempat ketemu satupun betina .... sedihnya :P !! Cara ini diklaim efektif dalam beberapa percobaan pengendalian serangga pengorok daun (itu loh, serangga yang larvanya hidup di dalam daun, suka bikin daun jadi kelihatan transparan) Keiferia lycopersicella di pertanaman tomat di Meksiko (bahasa Inggrisnya ‘mah tomato pinworm, bahasa Indonesianya apa yah ...). Di kebun tomat di mana sumber feromon di pasang banyak-banyak, hanya 4 % dari populasi serangga betinanya berhasil bereproduksi. Sementara di kebun tanpa perlakuan feromon, 50 % betinanya berhasil bereproduksi. Jadi strategi ini bagus juga dipakai untuk ngurangin populasi serangga hama tanpa harus nyemprot pestisida !!


Gejala serangan tomato pinworm


Tomato pinworm lagi santai makan siang di daun tomat


Kamu lihat plastik putih di antara dua tomat di atas? Itu sumber feromon trap yang di pasang di sana !

Wah, keren yah ... kita udah lumayan jauh ngegali bahasa kimianya para serangga, bahkan bikin pengetahuan itu jadi menguntungkan buat pertanian. Tapi sebenernya masih banyak loh yang belum kita tahu tentang feromon dan cara-cara serangga-serangga ini berkomunikasi. Berminat buat ngegali lebih lagi?

Mau tahu lagi ?
www.e-fabre.net/ ; ini museum virtualnya Jean-Henri Fabre. Kamu bisa ngebaca sendiri biografi lengkapnya Fabre, ngelihat koleksi foto bahkan baca beberapa buku yang ditulis Fabre !!
http://beyonddiscovery.org/ : ini website isinya macem-macem. Intinya mah tentang penemuan-penemuan yang udah ikut ngebentuk jaman di mana kita hidup sekarang, plus cerita-cerita sejarah di belakangnya. Asyik dan informatif !
http://creatures.ifas.ufl.edu/ : kalau yang ini agak lebih teknis, mungkin yang tertarik mahasiswa pertanian/hortikultura (kaya gua) kali yah ... Menarik karena nyimpen data singkat dari serangga, nematoda, dan segala hama-penyakit tanaman lainnya plus foto-foto mereka. Lebih menarik lagi karena dibikin ama Universitas Florida, jadi nyakup serangga-serangga yang jadi problem di Florida, yang punya iklim mirip-mirip ama Indo (so serangganya mungkin juga nggak beda-beda amat) !