Saturday, September 23, 2006

Beda musim, beda samaran

Sampeyan pasti sudah tahu kalau ada banyak serangga yang jago menyamar, menyelimurkan diri di tentangan lingkungan tempatnya hidup sampai-sampai manusia dan binatang predator lainnya nggak ngeh akan keberadaan mereka. Dunia serangga punya seribu satu cerita menarik tentang serangga-serangga jagoan menyamar ini. Dari phasmatidae (“phasmatidae” di bahasa latin artinya kurang lebih “serangga hantu” lho) yang mirip ranting kering dan dedaunan, sampai ngengat yang pola rentang sayapnya sebegitu mirip dengan dedaunan kering shingga kalau itu ngengat tiduran di hamparan daun kering, kita jadi jarang tahu kalau itu serangga lagi leyeh-leyeh di sana.

Photobucket - Video and Image Hosting Photobucket - Video and Image Hosting
Bukan hanya serangga dewasa saja yang jago mimikri. Bahkan di fase hidupnya yang lebih muda pun, beberapa serangga sudah jago menyamar! Larva ngengat ini misalnya. Dua gambar yang sampeyan lihat di atas adalah larva dari Nemoria outina, spesies ngengat dari keluarga geometridae. Lho, lho, lho... larva dari spesies yang sama kok warnanya bisa beda?? Nah ini dia letak canggihnya samaran larva Nemoria dibanding samaran serangga-serangga lain. Di musim panas, tanaman inang Nemoria biasanya tengah segar-segarnya berdaun (Nemoria hidup di sesemakan rosemary, Ceratiola ericoides, banyak ditemukan di Florida, US). So ulat serangga inipun mengambil wujud seperti yang sampeyan bisa lihat di sini: ijo seger, wis mirip sungguh dengan tanaman inangnya. Sementara di musim gugur, semak inang Nemoria kehilangan daun-daunnya. So, dengan “cerdik-licik”nya ulat Nemoria pun mengambil wujud seperti di gambar yang kanan: cokelat dengan sisik2 mirip cabang kering. Jangan salah, ulat yang udah kadung beradaptasi dengan inang hijau seger nggak akan berubah wujud jadi saudara2nya yang cokelat kerontang. Rupa2nya, kuncinya ada pada makanan yang disantap oleh ulat2 ini ketika mereka masih kecil. Kalau mereka makan dedaunan segar yang banyak tersedia di musim panas, mereka akan mengambil rupa macam dedaunan. Sementara kalau mereka makan dedaunan yang sudah mulai menguning sebagaimana jamak di musim gugur, mereka bakal tumbuh jadi ulat cokelat bersisik mirip cabang gundul. Konon, menurut spekulasi yang beredar di dunia persilatan, senyawa kadar senyawa fenolik di dua jenis dedaunan itulah yang jadi “sinyal” buat si ulat kecil untuk “mengambil keputusan” mau jadi ulat besar macam apa ia kelak.

::itu gambar tentu saja bukan jepretan saya sendiri. Saya copet mereka dari buku kerennya Thomas Eisner: Secret Weapons::

0 comments: