Wednesday, September 27, 2006

Jantan kemayu!

Photobucket - Video and Image HostingKenalkan teman saya: mecoptera! Nama bekennya di sini? Scorpion fly! Tongkrongannya sangar, mata hitam besar belok dan muka panjang tirus. Dan tentu saja: ekor yang ujungnya punya organ macam stinger scorpion. Tapi jangan takut, scorpion fly ini menang gertak doang kok. Badannya kecil ringkih, dan sengat di ujung pantatnya itu? Itu bukan sengat beneran! Itu cuma clasper, organ mirip catut yang dipakai untuk megangin betinanya pas mereka mating.
Nah, tentang mating, ada cerita unik menarik tentang scorpion fly. Seperti halnya banyak jenis serangga lain, scorpion fly jantan punya ritual kasih2 kado makanan untuk betinanya. Nyolu lah boso Jowo ne.. Betina yang tertarik ama makanan yang ditawarkan ama seekor jantan terus jadi mau dikawinin. Ini ritual lumrah di dunia serangga (jangan2 di dunia kita juga?).
Nah, nyari2 makanan yang pas (sedep enak lezat tepat gitu kali ya..) dan bawa2 makanan itu terbang ke sana kemari nyari betina itu bukan aktivitas enteng, bahkan untuk teman kita, scorpion fly jantan. Capek lho berburu makanan itu!! Bahasa teoritisnya, ada 'beaya' yang tinggi untuk nyari makanan demi bisa kawin. Uniknya, ada beberapa scorpion fly yang cerdik licik berlapis baja! Alih-alih berburu sendiri, mereka sok berlenggak-lenggok dan berpose kaya scorpion fly betina yang lagi berahi. Konon, scorpion fly betina yang lagi berahi emang punya pola terbang tersendiri, mirip ama kunang2 yang lagi pengen kawin, mereka akan mengirim sinyal cahaya unik. So, jantan yang menyamar jadi betina ini pun dengan kemayunya menggoda jantan lain untuk terbang mendekat dan menawarkan mahar perkawinan kepadanya. Kalau sampai dikasih, brubut! Direbutnya kado perkawinan itu dan terbang kaburlah ia!! Kalaupun jantan korbannya nggak terima dan ngajakin berantem, si jantan penyamar tadi bakal ngeladenin. Dan biasanya dia menang tuh, wong dia seger nggak kecapekan abis berburu dan gotong2 hadiah perkawinan kaya jantan yang lain kok.. Kalau dah menang, si jantan penyamar ini pun ngeluyur pergi sambil bawa kado pernikahan di kakinya, siap menggoda betina-betina...
Well, sepertinya memang pepatah lama banyak benarnya: yang malas mesti pintar (dan tentu saja, nggak tahu malu!!)

Saturday, September 23, 2006

Beda musim, beda samaran

Sampeyan pasti sudah tahu kalau ada banyak serangga yang jago menyamar, menyelimurkan diri di tentangan lingkungan tempatnya hidup sampai-sampai manusia dan binatang predator lainnya nggak ngeh akan keberadaan mereka. Dunia serangga punya seribu satu cerita menarik tentang serangga-serangga jagoan menyamar ini. Dari phasmatidae (“phasmatidae” di bahasa latin artinya kurang lebih “serangga hantu” lho) yang mirip ranting kering dan dedaunan, sampai ngengat yang pola rentang sayapnya sebegitu mirip dengan dedaunan kering shingga kalau itu ngengat tiduran di hamparan daun kering, kita jadi jarang tahu kalau itu serangga lagi leyeh-leyeh di sana.

Photobucket - Video and Image Hosting Photobucket - Video and Image Hosting
Bukan hanya serangga dewasa saja yang jago mimikri. Bahkan di fase hidupnya yang lebih muda pun, beberapa serangga sudah jago menyamar! Larva ngengat ini misalnya. Dua gambar yang sampeyan lihat di atas adalah larva dari Nemoria outina, spesies ngengat dari keluarga geometridae. Lho, lho, lho... larva dari spesies yang sama kok warnanya bisa beda?? Nah ini dia letak canggihnya samaran larva Nemoria dibanding samaran serangga-serangga lain. Di musim panas, tanaman inang Nemoria biasanya tengah segar-segarnya berdaun (Nemoria hidup di sesemakan rosemary, Ceratiola ericoides, banyak ditemukan di Florida, US). So ulat serangga inipun mengambil wujud seperti yang sampeyan bisa lihat di sini: ijo seger, wis mirip sungguh dengan tanaman inangnya. Sementara di musim gugur, semak inang Nemoria kehilangan daun-daunnya. So, dengan “cerdik-licik”nya ulat Nemoria pun mengambil wujud seperti di gambar yang kanan: cokelat dengan sisik2 mirip cabang kering. Jangan salah, ulat yang udah kadung beradaptasi dengan inang hijau seger nggak akan berubah wujud jadi saudara2nya yang cokelat kerontang. Rupa2nya, kuncinya ada pada makanan yang disantap oleh ulat2 ini ketika mereka masih kecil. Kalau mereka makan dedaunan segar yang banyak tersedia di musim panas, mereka akan mengambil rupa macam dedaunan. Sementara kalau mereka makan dedaunan yang sudah mulai menguning sebagaimana jamak di musim gugur, mereka bakal tumbuh jadi ulat cokelat bersisik mirip cabang gundul. Konon, menurut spekulasi yang beredar di dunia persilatan, senyawa kadar senyawa fenolik di dua jenis dedaunan itulah yang jadi “sinyal” buat si ulat kecil untuk “mengambil keputusan” mau jadi ulat besar macam apa ia kelak.

::itu gambar tentu saja bukan jepretan saya sendiri. Saya copet mereka dari buku kerennya Thomas Eisner: Secret Weapons::